Baca Bismillah dulu ya

Baca Bismillah dulu ya

this for someone that i love most
Showing posts with label Talk about Love. Show all posts
Showing posts with label Talk about Love. Show all posts

Monday, 28 April 2008

Hakikat Cinta


Cinta adalah bagian dari fitrah, orang yang kehilangan cinta dia tidak normal tetapi banyak juga orang yang menderita karena cinta. Bersyukurlah orang-orang yang diberi cinta dan bisa menyikapi rasa cinta dengan tepat.
Hikam:"Dijadikan indah pada pandangan manusia, kecintaan kepada apa-apa yang diinginkan yaitu wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup didunia dan disisi Allah tempat kembali yang baik." (Al-Qur`an: Al-Imron ayat 14)
Cintamu kepada sesuatu menjadikan kamu buta dan tuli (HR. Abu Dawud dan Ahmad)
Cinta memang sudah ada didalam diri kita, diantaranya terhadap lawan jenis. Tapi kalau tidak hati-hati cinta bisa menulikan dan membutakan kita.
Cinta yang paling tinggi adalah cinta karena Allah cirinya adalah orang yang tidak memaksakan kehendaknya. Tapi ada juga cinta yang menjadi cobaan buat kita yaitu cinta yang lebih cenderung kepada maksiat. Cinta yang semakin bergelora hawa nafsu, makin berkurang rasa malu. Dan, inilah yang palingberbahaya dari cinta yang tidak terkendali.
Islam tidak melarang atau mengekang manusia dari rasa cinta tapi mengarahkan cinta tetap pada rel yang menjaga martabat kehormatan, baik wanita maupun laki-laki. Kalau kita jatuh cinta harus hati-hati karena seperti minum air laut semakin diminum semakin haus. Cinta yang sejati adalah cinta yang setelah akad nikah, selebihnya adalah cobaan dan fitnah saja.
Cara untuk bisa mengendalikan rasa cinta adalah jaga pandangan, jangan berkhalwat berdua-duaan, jangan dekati zina dalam bentuk apapun dan jangan saling bersentuhan.
Bagi orang tua yang membolehkan anaknya berpacaran, harus siap-siap menanggung resiko. Marilah kita mengalihkan rasa cinta kita kepada Allah dengan memperbanyak sholawat, dzikir, istighfar dan sholat sehingga kita tidak diperdaya oleh nafsu, karena nafsu yang akan memperdayakan kita. Sepertinya cinta padahal nafsu belaka

Sunday, 20 April 2008

Cinta Sejati


Baca artikel ini jadi tersindir sendiri, Ya Allah mia pernah salah dalam mengartikan cinta. Kasih kesempatan untuk mia memohon ampun ya Allah untuk kesalahan-kesalahan itu.



Pada suatu hari Umar bin Khattab berkata kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali dari diriku sendiri.” Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pun menjawab, "Tidak, demi Allah, hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri." Maka berkatalah Umar, “Demi Allah, sekarang engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri!” (HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya, lihat Fath al-Bari [XI/523] no: 6632)


Di lain kesempatan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menegaskan, "Demi Allah, salah seorang dari kalian tidak akan dianggap beriman hingga diriku lebih dia cintai dari pada orang tua, anaknya dan seluruh manusia." (HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya, lihat Fath al-Bari [I/58] no: 15, dan Muslim dalam Shahih-nya [I/67 no: 69])

Banyak sekali hadits-hadits yang senada dengan dua hadits di atas, yang menekankan wajibnya mencintai Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, karena hal itu merupakan salah satu inti agama, hingga keimanan seseorang tidak dianggap sempurna hingga dia merealisasikan cinta tersebut. Bahkan seorang muslim tidak mencukupkan diri dengan hanya memiliki rasa cinta kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam saja, akan tetapi dia dituntut untuk mengedepankan kecintaannya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam -tentunya setelah kecintaan kepada Allah- atas kecintaan dia kepada dirinya sendiri, orang tua, anak dan seluruh manusia.

Terkadang kita terlalu mencintai seseorang dengan sangat padahal bisa jadi hal itu berujung kepada kekecewaan dan sakit hati. Mengapa kita tidak mencoba (mulai dari sekarang) mencintai Rasululloh ‘alaihi shollatu wassalam (dengan menjadikan beliau teladan dalam seluruh aspek kehidupan). Karena inilah cinta sejati....cinta yang tidak akan membuat kita kecewa.

Anas bin Malik rodhiallahu 'anhu mengisahkan, "Ada seseorang yang bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tentang hari kiamat, "Kapankah kiamat datang?" Nabi pun shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, "Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya? " Orang itu menjawab, "Wahai Rasulullah, aku belum mempersiapkan shalat dan puasa yang banyak, hanya saja aku mencintai Allah dan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam." Maka Rasulullah pun shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Seseorang (di hari kiamat) akan bersama orang yang dicintainya, dan engkau akan bersama yang engkau cintai." Anas pun berkata, "Kami tidak lebih bahagia daripada mendengarkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, 'Engkau akan bersama orang yang engkau cintai.'" Anas kembali berkata, "Aku mencintai Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, Abu Bakar dan Umar, maka aku berharap akan bisa bersama mereka (di hari kiamat), dengan cintaku ini kepada mereka,meskipun aku sendiri belum (bisa) beramal sebanyak amalan mereka." (HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya, lihat Fath al-Bari [X/557 no: 6171] dan at-Tirmidzi dalam Sunan-nya [2385])

Cinta Yang Sejati Tidak Akan Hilang


Insyaalah inilah bentuk cinta yang mia tunggu, bentuk cinta suci yang mia persembahkan untuk belahan jiwaku, pasangan hatiku.



Apakah cinta itu ?

Mereka yang tidak menyukainya menyebutnya tanggung jawab,

Mereka yang bermain dengannya, menyebutnya sebuah permainan,

Mereka yang tidak memilikinya, menyebutnya sebuah impian,

Mereka yang mencintai, menyebutnya takdir.

Kadang Tuhan yang mengetahui yang terbaik, akan memberi kesusahan untuk menguji kita.

Kadang Ia pun melukai hati, supaya hikmat-Nya bisa tertanam dalam.

Jika kita kehilangan cinta, maka pasti ada alasan di baliknya.

Alasan yang kadang sulit untuk dimengerti, namun kitatetap harus percaya bahwa ketika Ia mengambil sesuatu, Ia telah siapmemberi yang lebih baik.

Mengapa menunggu?

Karena walaupun kita ingin mengambil keputusan, kita tidak ingin tergesa-gesa.

Karena walaupun kita ingin cepat-cepat, kita tidak ingin sembrono.

Karena walaupun kita ingin segera menemukan orang yang kita cintai,

Jika ingin berlari, belajarlah berjalan dahulu,

Jika ingin berenang, belajarnya mengapung dahulu

Jika ingin dicintai, belajarlah mencintai dahulu.

Pada akhirnya, lebih baik menunggu orang yang kita inginkan, ketimbang memilih apa yang ada.

Tetap lebih baik menunggu orang yang kita cintai, ketimbang memuaskan diri dengan apa yg ada.

Tetap lebih baik menunggu orang yang tepat, karena hidup ini terlampau singkat untuk dilewatkan bersama pilihan yang salah,karena menunggu mempunyai tujuan yang mulia dan misteriusPerlu kau ketahui, bahwa bunga tidak mekar dalam waktusemalam,

Kota Roma tidak dibangun dalam sehari,kehidupan di rajut dalam rahim selama sembilan bulan

Cinta yang agung terus bertumbuh selama kehidupan

Kebanyakan hal yang indah dalam hidup memerlukan waktuyg lama, dan penantian kita tidak sia-sia

Walaupun menunggu membutuhkan banyak hal, iman, keberanian dan pengharapan, penantian menjanjikan satu hal yang tidak dapat seorangpun bayangkan.

Pada akhirnya Tuhan dalam segala hikmat-Nya,

meminta kita menunggu karena alasan yang penting.

Kalau Cinta Bersemi di Tempat Yang Salah


Duh merananya kalau putus cinta, tapi lebih merana lagi kalau cinta yang kita agungkan malah bersmi di tempat yang salah. Siapa sih mau kaya gitu, mia juga ogah he..he..tapi hidup sering membawa kita pada kesalahan agar kita belajar.

Oleh : KH A Hasyim Muzadi


Allah SWT adalah Lumbung Cinta Abadi. Tak ada satu pun kehendak-Nya yang tercurahkan, kecuali atas dasar cinta. Bahkan ketika Dia hendak menciptakan alam semesta, semuanya juga berasal dari cinta-Nya yang begitu agung. Maka, untuk tetap menumbuhkan rasa cinta, Dia menularkan benih-benih luhur ke jantung hati alam semesta melalui Baginda Rasul Muhammad SAW.Melalui Sang Nabi inilah, maka meluncur deras ikhtisar cinta di bentangan dunia, khususnya di kalangan ummat manusia. Demikianlah! Nabi Muhammad merupakan sosok perlambang dunia cinta. Kelembutan hatinya, telah meluluhkan hati terdalam banyak manusia dan karena keluhuran budinya, banyak angkara murka luluh mencair. Belaian tangannya yang halus, mampu membungkam kecongkakan dunia.

Sentuhannya yang tulus, menyebabkan lawan takluk tanpa merasa dikalahkan. Maka, melalui Nabi Muhammad-lah, suri teladan cinta begitu mudah ditemukan.

Kini, sebagian besar bangsa kita tengah merindukan kehadiran sosok para pecinta yang sesungguhnya. Cinta hanya dapat dirasakan kalau terjadi interaksi yang intens. Kalau menjelang wafatnya, Nabi Muhammad masih berat meninggalkan umat Islam, maka sosok seperti apakah Baginda ini?''Ummaty! Ummaty (Umatku! Umatku!),'' demikian beliau mendesah pada detik-detik terakhir kehidupannya. Adakah cara paling menyentuh untuk menunjukkan kecintaan seseorang selain menyebut nama orang yang dicintainya, bahkan di saat ajal menjelang? Adakah pecinta seagung Baginda Muhammad? Begitu kabar wafatnya Rasulullah menyebar, semua isi alam ini menangis.Mendung bergelayut, burung-burung saling bertasbih, para malaikat menumpahkan air mata kesedihan yang mendelam. Umat manusia seperti ditenggelamkan dalam kegundahan yang teramat sangat. Begitu Nabi Muhammad wafat, maka alam terus menerus berada dalam dunia lara duka yang tak berbatas.

Banyak cara dilakukan orang untuk menyatakan bahwa cintanya tidak bertepuk sebelah tangan dengan Sang Rasul. Mereka yang terdekat secara zaman dengan Baginda, akan selalu mamatut-matutkan dirinya dengan pola kehidupan Rasulullah. Para sahabat terdekat dan sezaman dengan beliau, juga akan meneladani serta menapaktilasi semua kebiasaan yang dilakukan Baginda Rasul semasa hidup.Bagaimana dengan umatnya yang tak pernah bersua beliau?

Bagaimanakah cara meneladani kebiasaan seseorang ketika yang dicinta tak pernah secara fisik dirasakan kehadirannya? Bagaimanakah cara mencintai seseorang yang kita tak pernah bertemu dengannya? Bahkan lukisan tentang dirinya pun tak ada? Kita sebagai umat Islam yang hidup ribuan tahun setelah kehadiran beliau di dunia ini, bisa mengadopsi bentuk-bentuk cinta Rasul melalui sirahnya yang sampai kepada kita. Bisa juga melalui keterangan-keterang an para cerdik cendekia yang sampai kepada kita serta bisa pula lewata kisah-kisah abadi tarikh masa lalu.Kini, kita sebagai umat Islam, bagian terbesar bangsa Indonesia, tengah mengharapkan lahirnya sosok pecinta sejati. Bangsa-bangsa di dunia, begitu cinta kepada pejuang mereka, maka mereka bangun sebuah patung besar untuk mengenang kepahlawanannya. Begitu gandrungnya anak-anak kita kepada sosok pujaan mereka, tak ada ruang dinding kamarnya yang tersisa selain tempelan foto-foto bintang kesukaan mereka. Kalau anak kita menggemari sepak bola, maka gambar superstar sepak bola akan meramaikan semua sisi-sisi biliknya.Mereka berikhtiar berperilaku seperti David Beckham, kalau mereka menyukai pemain besutan Manchester United ini. Kalau anak kita menggemari seorang penyanyi, maka kemana pun sang penyanyi ''manggung'' ia akan berusaha keras untuk bisa berdekatan dengannya. Kalau setiap saat televisi kita hanya menanyangkan sinetron yang kualitasnya tidak memadai, maka jangan harap anak kita akan meninggalkan tabung bergambar itu sebelum acara usai.Kini, 150 juta lebih penduduk Indonesia menikmati tayangan televisi. Seperti sebuah virus, demam tontonan televisi sudah menyebar hingga ke ruang-ruang privat masyarakat. Banyak di antara anak-anak kita yang jauh lebih suka meneladani bintang pujaannya dari pada kita sendiri. Sampai kita sendiri bertanya-tanya, mau jadi apakah anak kita kelak. Banyak di antara anak-anak kita yang lebih cinta bintang kegemarannya dari pada cintanya kepada kita sebagai orangtua. Tetapi, begitu sibuknya kita dengan urusan sehari-hari, hingga kita tidak sadar sudah begitu jauh anak kita melangkah.Menggemari seorang pujaan tentu tidak salah karena mereka tengah mencari sosok panutan sebelum mereka benar-benar menemukan jati diri. Menjadi salah, kalau anak kita sampai meniru pola hidup para bintang pujaannya, terutama yang negatif. Jujur kita akui, pada sebagian besar waktu, cinta anak-anak kita bersemi di tempat yang salah. Atau, jangan-jangan cinta kita semua, para penikmat tayangan televisi, juga mengalami hal serupa? Bersemi di tempat yang salah. Duh Gusti!Dalam beberapa dekade terakhir, dunia tontonan yang bergejala hedonis ini, telah merasuk sangat jauh hingga ke tulang sumsun terdalam kita. Begitu menumpuknya beban masyarakat, sebagian besar karena kualitas tontonan yang yang hanya mengejar rating belaka. Makhluk macam apakah rating ini sesungguhnya, sehingga begitu kuat membius sebagian besar televisi kita?Begitu banyak stasiun televisi yang kita miliki, tetapi begitu sedikit yang serius berkomitmen menaburkan nilai-nilai luhur kepada masyarakat penikmatnya. Betapa banyak penelitian dilakukan untuk mengukur kualitas tayangan tertentu, tetapi begitu banyak hasilnya yang menunjukkan betapa besar impact negatif yang ditularkan oleh begitu banyak acara-acara di televisi kita. Memercayakan pendidikan anak-anak bangsa ini kepada tayangan di televisi, sungguh merupakan sebuah pertaruhan teramat berani. Tentu kita tidak bisa menampik kehadiran televisi dalam kehidupan kita sehar-hari. Tetapi tentu saja kita juga harus siap memberikan daya tangkal dari anasir-anasir negatif yang ditimbulkannya.Kalau kita cinta anak-anak kita, anak-anak bangsa ini, mari semua berkomitmen memberikan yang terbaik. Kalau kita kurang begitu yakin atas kemampuan kita karena kemampuan yang terisisa jauh lebih minim efeknya dibanding jumlah persoalan yang ada, maka cukuplah bagi kita memberikan perhatian yang serius kepada anak-anak kita. Sudah terlalu banyak survei dilakukan dan sudah begitu banyak pula penjelasan seputar dampak negatif dari serangkaian tontotan yang disuguhkan kepada kita.Tak perlulah semua kita berhasrat membenahi semua keruwetan bangsa ini, tetapi cukuplah bagi kita mengurus satu persoalan ini dulu. Ini merupakan tanggung jawab semua anak bangsa; pemerintah sebaga regulator, pemilik televisi sebagai pemodal, pekerja televisi sebagai penanggung jawab rubrikasi, pemilik production house sebagai produser tayangan hiburan serta kita sebagai penonton.Marilah kita segera sadar! Ini persoalan serius. Hidup kita hari ini tak lebih dari sekadar pinjaman dari sebagian hak-hak anak-anak kita. Kehidupan akan terus berlanjut, dan kehidupan anak-anak kita sudah menunggu di pintu gerbang masa depan. WalLaahu A'lamu Bishshowaab.

Taman Orang-orang Jatuh Cinta


Siapa sih orang yang nggak mau kisah cintanya di ridhoi sama Allah dan kemudian berakhir dengan indah di pelaminan. I really want it and i really dream about it...Tapi Tuhan Maha tahu kapan waktu yang tepat buat mia mencinta dan terutama lagi dicintai oleh makhluknya.Ini salah satu artikel indah yang mia temukan di milis, really inspiring.


Ibnu Qayyim Al-Juziyah (atau Al-Jauziyyah) sungguh menakjubkan. Ketika membaca buku terjemahan kitab beliau, Raudhatul Muhibbiin, yang berjudul Taman Orang-orang Jatuh Cinta, terj. Bahrun AI Zubaidi, Lc .

Bagaimana tidak menakjubkan? Di buku setebal 930 halaman tersebut, orang yang jatuh cinta ditawari “rahmat dan syafaat” (hlm. 715 dst.). Selain itu, beliau mengarahkan pembaca untuk “menyeimbangkan dorongan hawa nafsu dan potensi akal” (hlm. 29 dst.). Hal-hal semacam ini jarang kami temui di buku-buku percintaan yang pernah kami baca.

Memang, sebagaimana ulama-ulama besar lainnya, beliau pun menekankan “cinta kepada Allah” dan “cinta karena Allah” (hlm. 550). Namun, beliau ternyata juga membicarakan fenomena “pacaran islami”, suatu topik sensitif yang sering dihindari banyak ulama. Beliau mengungkapkannya (bersama-sama dengan persoalan lain yang relevan) di sub-bab “Berbagai hadits, atsar, dan riwayat yang menceritakan keutamaan memelihara kesucian diri” dan “Cinta yang suci tetap menjadi kebanggaan” (hlm. 607-665).

Di situ, kami jumpai istilah “pacaran” muncul tujuh kali, yaitu di halaman 617, 621 (lima kali), dan 658. Adapun istilah-istilah lain yang menunjukkan keberadaan aktivitas tersebut adalah “bercinta” (hlm. 650), “gayung bersambut” (hlm. 613), “saling mengutarakan rasa cinta” (hlm. 620-621), “mengapeli” (hlm. 642-643), “berdekatan” (hlm. 617), dan sebagainya.

Sekurang-kurangnya, kami jumpai ada sembilan contoh praktek pacaran islami yang diceritakan oleh Ibnu Qayyim di situ. Dari contoh-contoh itu, dan dari keterangan beliau di buku tersebut, kami berusaha mengenali ciri khas “pacaran islami” ala Raudhatul Muhibbiin. Ini dia tujuh diantaranya:

1. mengutamakan akhirat
2. mencintai karena Allah
3. membutuhkan pengawasan Allah dan orang lain
4. menyimak kata-kata yang makruf
5. tidak menyentuh sang pacar
6. menjaga pandangan
7. seperti berpuasa

1) MENGUTAMAKAN AKHIRAT

Pada dua contoh, pelaku “pacaran islami” ditawari kenikmatan duniawi (zina), tetapi menolaknya dengan alasan ayat QS Az-Zukhruf [43]: 67, “Teman-teman akrab pada hari [kiamat] itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertaqwa.” (hlm. 616 dan 655) Maksudnya, mereka yang islam itu lebih memilih kenikmatan ukhrawi daripada kenikmatan duniawi (ketika dua macam kenikmatan ini bertentangan) .

Adapun pada bab terakhir, Ibnu Qayyim (dengan berlandaskan QS Al-Insaan [76]: 12) menyatakan, “Barang siapa yang mempersempit dirinya [di dunia] dengan menentang kemauan hawa nafsu, niscaya Allah akan meluaskan kuburnya dan memberinya keleluasaan di hari kemudian.” (hlm. 918)

2) MENCINTAI KARENA ALLAH

Pada suatu contoh, diungkapkan syair: “Sesunggguhnya aku merasa malu kepada kekasihku bila melakukan hal yang mencurigakan; dan jika diajak untuk hal yang baik, aku pun berbuat yang baik.” (hlm. 656)

‘Umar bin Bukair telah menceritakan bahwa pernah ada seorang lelaki pedalaman yang menceritakan pengalaman bercintanya:
Aku pernah jatuh cinta kepada seorang wanita selama beberapa tahun. Aku sering mengapelinya [yakni mengunjunginya] dan mengobrol dengannya tanpa melakukan suatu perbuatah pun yang mencurigakan (dinilai berdosa).

Namun suatu malam yang gelap kulihat telapak tangannya yang putih mulus, sehingga membuatku tidak tahan untuk memegangnya.
Begitu aku memegangnya, dia terkejut dan berkata: “Jangan lakukan ini! Jangan engkau rusak hubungan kita, karena sesungguhnya tidak sekali-kali birahi cinta dilampiaskan, melainkan pasti akan merusaknya.”
Aku pun bangkit menjauh darinya dengan keringat yang bercucuran karena malu. Sejak saat itu aku tidak berani lagi melakukan hal-hal yang semisal.
— — — —

Seorang pemuda jatuh cinta kepada seorang gadis dan cintanya ternyata bergayung sambut dari pihak sang gadis, sehingga berita percintaan keduanya telah tersiar.

Pada suatu hari mereka berduaan tanpa ada orang lain [di antara mereka], lalu sang pemuda berkata kepada kekasihnya: Marilah kita realisasikan apa yang telah dikatakan oleh orang-orang tentang kita.”

Sang gadis menjawab: “Tidak, demi Allah, jangan sampai hal itu terjadi, karena aku telah membaca firman-Nya: ‘Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertaqwa.’ [QS. Az-Zukhruf (43): 67]
============ ===

Kutipan dari Ibnu Qayyim Al-Juziyah, Taman Orang-orang Jatuh Cinta & Rekreasi Orang-orang Dimabuk Rindu (Bandung: Irsyad Baitus Salam, 2006), sub-bab “Berbagai Hadits, atsar, dan riwayat yang menceritakan keutamaan memelihara kesucian diri”, hlm. 642-643, dan sub-bab “Cinta yang suci tetap menjadi kebanggaan”, hlm. 655.

DIarsipkan di bawah: 4 - Rengkuh ruh
« Contoh Pacaran Islami ala Ibnu Qayyim Al-Juziyah (7) Contoh Pacaran Islami ala Ibnu Qayyim Al-Juziyah (9) »

Syair tersebut menggambarkan bahwa percintaannya “menghantarkannya untuk dapat meraih ridha-Nya” (hlm. 550). Menghindari hal yang mencurigakan dan menerima ajakan berbuat baik itu diridhai Dia, bukan?

Lantas, apa hubungannya dengan “cinta karena Allah”? Perhatikan:

Yang dimaksud dengan cinta karena Allah ialah hal-hal yang termasuk ke dalam pengertian kesempurnaan cinta kepada-Nya dan berbagai tuntutannya, bukan keharusannya. Karena sesungguhnya cinta kepada Sang Kekasih menuntut yang bersangkutan untuk mencintai pula apa yang disukai oleh Kekasihnya dan juga mencintai segala sesuatu yang dapat membantunya untuk dapat mencintai-Nya serta menghantarkannya untuk dapat meraih ridha-Nya dan berdekatan dengan-Nya. (hlm. 550)

3) MEMBUTUHKAN PENGAWASAN ALLAH DAN ORANG LAIN

Pada suatu contoh, pelaku “pacaran islami” bersyair: “Aku punya Pengawas yang tidak boleh kukhianati; dan engkau pun punya Pengawas pula” (hlm. 628).

Pada satu contoh lainnya, Muhammad bin Sirin mengabarkan bahwa “dahulu mereka, saat melakukan pacaran, tidak pernah melakukan hal-hal yang mencurigakan. Seorang lelaki yang mencintai wanita suatu kaum, datang dengan terus-terang kepada mereka dan hanya berbicara dengan mereka tanpa ada suatu kemungkaran pun yang dilakukannya di kalangan mereka” (hlm. 621).

4) MENYIMAK KATA-KATA YANG MAKRUF

Pada suatu contoh, ‘Utsman Al-Hizami mengabarkan, “Keduanya saling bertanya dan wanita itu meminta kepada Nushaib untuk menceritakan pengalamannya dalam bentuk bait-bait syair, maka Nushaib mengabulkan permintaannya, lalu mendendangkan bait-bait syair untuknya.” (hlm. 620)

Pada enam contoh,
‘Amir bin Hudzafah telah menceritakan kisah berikut:

Aku melihat di Shuhara seorang gadis yang sedang menempelkan pipinya di sebuah kuburan sambil menangis seraya mengucapkan bait-bait syair ….

‘Amir melanjutkan kisahnya bahwa sesudah itu dia menanyakan kepada gadis itu kuburan yang ditangisinya.

Ia menjawab: “Seorang pemuda yang menjadi kekasihku semenjak kecil.” Kemudian gadis itu kembali melantunkan bait-bait syairnya:

Dahulu kami bak sepasang merpati di sebuah sarang nan rindang
Kami hidup menikmati kesehatan dan masa muda kami
Namun kemudian zaman mencerai-beraikan segalanya hingga aku berpisah dengannya
Dan memang zaman itu selalu memisahkan orang-orang yang dicintai

‘Amir bin Hudzafah mengatakan bahwa dia hanyut dan ikut menangis sedih karena kelembutan syairnya, lalu gadis itu kembali melantunkan bait-bait syair berikut:

Kamu tangisi dia, padahal kamu tidak tahu keadaannya; maka aku sungguh akan memberitahu kepadamu tentang keadaannya dengan jelas.
Tiada seorang pun yang meminta kebajikan darinya, melainkan pasti akan diberi olehnya; tetapi jika diminta tolong, jadilah dia seorang pendekar yang pilih tanding.
Dia tidak pernah melirikkan matanya kepada tetangga, dan tidak pernah menggoda kaum wanita tetangganya yang cantik-cantik.
Dia seorang yang suci batinnya, begitu pula lahirnya; tetapi apabila haknya dianiaya, engkau lihat dia seorang yang tangguh dan perkasa menuntut haknya.
Aku [’Amir] bertanya: “Beritahukanlah kepadaku, siapa dia sebenarnya.”

Gadis itu menjawab: “Dia adalah Sinan bin Wabrah, sebagaimana yang dikatakan oleh penyair lain melalui bait syair berikut.”
Wahai orang yang meminta bantuan, untuk menolong bencana kaumnya;
cukuplah bagimu meminta bantuan, kepada Sinan nan dermawan
Gadis itu pun berkata: “Wahai orang yang tidak kukenal, demi Allah, seandainya engkau bukan orang yang asing, tentulah aku tidak akan menyenangkanmu dengan kisahku.”
Aku bertanya: “Bagaimanakah cintanya kepadamu?”
Ia menjawab: “Dia tidak pernah memberiku bantal bila aku tidur, kecuali hanya tangannya; dan aku berpacaran dengannya selama empat tahun, namun aku tidak pernah tidur menggunakan bantal, selain tangannya, kecuali dalam keadaan yang tidak mengizinkan baginya.”

============ ===

Kutipan dari Ibnu Qayyim Al-Juziyah, Taman Orang-orang Jatuh Cinta & Rekreasi Orang-orang Dimabuk Rindu (Bandung: Irsyad Baitus Salam, 2006), sub-bab “Cinta yang suci tetap menjadi kebanggaan”, hlm. 657-658.

para pelaku pacaran islami “saling mengutarakan rasa cintanya masing-masing melalui bait-bait syair yang indah dan menarik” (hlm. 620-621).

Pada suatu contoh, pelaku pacaran islami mengabarkan, “Demi Tuhan yang telah mencabut nyawanya, dia sama sekali tidak pernah mengucapkan kata-kata yang mesum hingga kematian memisahkan antara aku dan dia.” (hlm. 628)

‘Abdul Malik bin Marwan pernah bertanya kepada Laila Al-Ukhailiyah: “Demi Allah, apakah antara kamu dan [almarhum] kekasihmu pernah melakukan suatu dosa sehingga kamu mesti bertobat darinya?”
Laila menjawab: “Demi Tuhan yang telah mencabut nyawanya dan Dia pun berkuasa untuk mencabut nyawaku, di antara aku dan dia tidak pernah terjadi perbuatan yang berdosa sama sekali. Hanya saja pada suatu hari ketika dia baru tiba dari perjalanannya, dia menjabat tanganku dan meremas-remasnya. Itu pun sudah kuanggap sebagai perbuatan yang tabu. Hal inilah yang kumaksudkan dalam bait-bait syairku yang berikut ini:

Berapa banyak keinginan [syahwat]-nya kepadaku, kukatakan kepadanya: “Jangan kau lampiaskan keinginan [syahwat]-mu.
Kamu tidak punya jalan untuk melampiaskannya selama aku masih hidup.
Aku punya Pengawas yang tidak boleh kukhianati;
dan engkau pun punya Pengawas pula, namun engkau kekasihku.”
Laila berkata: “Demi Tuhan yang telah mencabut nyawanya, dia sama sekali tidak pernah mengucapkan kata-kata yang mesum hingga kematian memisahkan antara aku dan dia.”
— — — —

Ketika ‘Umar bin Abu Rabi’ah (penyair terkenal pada masa Bani Umayyah) menjelang kematiannya, al-Harits, saudaranya, menangisinya sehingga membuat ‘Umar berkata kepadanya: “Wahai saudaraku, jika engkau menyesaliku karena dalam bait syairku sering kukatakan bahwa aku merayu kekasihku dan dia balas merayuku, sebenarnya aku tidak pernah melakukan hal-hal yang diharamkan dengannya. …”

Setelah mendengar ucapan itu Al-Harits merasa lega dan berkata: “Segala puji bagi Allah SWT yang telah menyenangkan hatiku.”
============ ===

Kutipan dari Ibnu Qayyim Al-Juziyah, Taman Orang-orang Jatuh Cinta & Rekreasi Orang-orang Dimabuk Rindu (Bandung: Irsyad Baitus Salam, 2006), sub-bab “Berbagai Hadits, atsar, dan riwayat yang menceritakan keutamaan memelihara kesucian diri”, hlm. 628 & 636-637.

DIarsipkan di bawah: 4 - Rengkuh ruh
« Contoh Pacaran Islami ala Ibnu Qayyim Al-Juziyah (2) Contoh Pacaran Islami ala Ibnu Qayyim Al-Juziyah (4) »

5) TIDAK MENYENTUH SANG PACAR
Pada suatu contoh, pelaku pacaran islami menganggap jabat tangan “sebagai perbuatan yang tabu” (hlm. 628).
Pada dua contoh, pelaku pacaran islami tidak pernah menyentuhkan tangannya ke tubuh pacarnya. (hlm. 634)
Pada satu contoh lainnya, pelaku pacaran islami “berdekatan tetapi tanpa bersentuhan” (hlm. 621).
Sementara itu, Ibnu Qayyim mengecam gaya pacaran jahili di zaman beliau. Mengutip kata-kata Hisyam bin Hassan, “yang terjadi pada masa sekarang, mereka masih belum puas dalam berpacaran, kecuali dengan melakukan hubungan sebadan alias bersetubuh” (hlm. 621).

6) MENJAGA PANDANGAN

Di antara contoh-contoh itu, terdapat satu kasus (hlm. 617) yang menunjukkan bahwa si pelaku pacaran islami “dapat melihat” kekasihnya. Akan tetapi, Ibnu Qayyim telah mengatakan “bahwa pandangan yang dianjurkan oleh Allah SWT sebagai pandangan yang diberi pahala kepada pelakunya adalah pandangan yang sesuai dengan perintah-Nya, yaitu pandangan yang bertujuan untuk mengenal Tuhannya dan mencintai-Nya, bukan pandangan ala setan” (hlm. 241).

7) SEPERTI BERPUASA

Ibnu Qayyim menyimpulkan:

Demikianlah kisah-kisah yang menggambarkan kesucian mereka dalam bercinta. Motivasi yang mendorong mereka untuk memelihara kesuciannya paling utama ialah mengagungkan Yang Mahaperkasa, kemudian berhasrat untuk dapat menikahi bidadari nan cantik di negeri yang kekal (surga). Karena sesungguhnya barang siapa yang melampiaskan kesenangannya di negeri ini untuk hal-hal yang diharamkan, maka Allah tidak akan memberinya kenikmatan bidadari nan cantik di negeri sana…. (hlm. 650)

Oleh karena itu, hendaklah seorang hamba bersikap waspada dalam memilih salah satu di antara dua kenikmatan [seksual] itu bagi dirinya dan tiada jalan lain baginya kecuali harus merasa puas dengan salah satunya, karena sesungguhnya Allah tidak akan menjadikan bagi orang yang menghabiskan semua kesenangan dan kenikmatan dirinya dalam kehidupan dunia ini, seperti orang yang berpuasa dan menahan diri darinya buat nanti pada hari berbukanya saat meninggalkan dunia ini manakala dia bersua dengan Allah SWT. (hlm. 650-651)

Begitulah tujuh ciri khas pacaran islami ala Raudhatul Muhibbiin dalam pandangan kami. Bagaimana dengan Anda? Tolonglah beritahu kami apa saja ciri khas pacaran islami ala Raudhatul Muhibbiin dalam pandangan Anda!

Kami: Irsyad Baitus Salam, Bandung

tHe SmiLe oF PrUPlAnnErs GirLs

tHe SmiLe oF PrUPlAnnErs GirLs

The Power Of C Family

The Power Of C Family
English Literature...Pakuan University